1. Mengapa Kajian Timur Tengah?

Timur Tengah sebagai satu kawasan, yang letak dan posisinya berada di tengah-tengah bumi, mempunyai arti yang sangat penting dari sisi geoekonomi dan geopolitik. Sejak masa lampau Timur Tengah menjadi pusat peradaban dan kebudayaan umat manusia, terutama yang berkembang di sepanjang aliran sungai Eufrat dan Tigris di Mesopotania, seperti kebudayaan Babilonia dan Assyria, serta kebudayaan Mesir kuno di sepanjang aliran sungai Nil. Di kawasan ini pula lahir agama-agama samawi diturunkan seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam serta para tokoh penyebarnya. Sampai sekarang penganut agama-agama besar tersebut tersebar di berbagai belahan dunia dengan tingkat populasi mencapai 2/3 dari total penduduk dunia.

Sebagai kawasan yang berada di posisi sentral, Timur Tengah dengan sendirinya menjadi pintu gerbang lalu lintas perdagangan yang menghubungkan berbagai kebutuhan hidup masyarakat dari dua benua Asia, Afrika dan Eropa. Sejak sebelum ditemukannya lading-ladang minyak, para pedagang dari kawasan ini telah menjajakan hasil bumi dan kerajinan mereka secara sporadic dan tradisional ke berbagai pelosok dunia termasuk Indonesia. Sejarah telah mencatat bahwa pengembaraan mereka telah berhasil menembus jarak lebih dari 1000 mil laut dari tempat asal mereka, dan mereka sukses untuk dua kepentingan sekaligus; berdagang sampai menyebarkan agama. Tradisi pengembaraan mereka yang gemilang di masa lalu, telah memberikan fondasi kesuksesan generasi-generasi berikutnya, terlebih lagi setelah ditemukannya sumber-sumber minyak mentah di kawasan ini.

Lalu investasi dan perdagangan Negara-negara di kawasan Timur Tengah yang meningkat tajam dewasa ini beserta lading-ladang minyak mereka, menjadikan daerah ini menjadi ajang perebutan berbagai pengaruh dari kepentingan antar bangsa di dunia. Para pakar mengatakan bahwa Timur Tengah menyimpan “bara api politik” yang tak akan pernah padam karena semakin semerawutnya kepentingan di kawasan ini.

Bagi Indonesia, kawasan Timur Tengah adalah kawasan yang sangat penting. Karena secara politik hubungan baik dengan Negara-negara di kawasan ini, seperti Mesir, sudah terbentuk proklamasi kemerdekaan 1945. hubungan antar Indonesia dengan Negara-negara di kawasan ini terus berlangsung baik hingga kini dalam berbagai forum kerjasama seperti OPEC, Gerakan Non-Blok, OKI, dan D-8 (Developing Eight). Secara cultural, hubungan masyarakat Indonesia dengan Timur Tengah (kebudayaan Arab) sudah terjalin sejak ratusan tahun lampau dan mengakar.

  1. Mengapa Kajian Islam?

Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Tetapi sebagian besar dari mereka menyadari bahwa pemahaman mereka terhadap ajaran Islam masih sangat kurang. Dalam kehidupan sehari-hari Islam baru digunakan sebatas symbol artificial dan belum digunakan secara substansial oleh para penganutnya. Padahal telah banyak diakui bahwa Islam memiliki khazanah peradaban hidup yang tinggi yang dapat mempercepat perkembangan peradaban dan kebudayaan umat manusia. Tampaknya, kurun waktu penjajahan selama lebih dari 3 abad oleh colonial Barat, telah menghambat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap agamanya. Dan sekarang adalah waktunya yang tepat menggali nilai-nilai Islam yang telah lama tak tersentuh oleh sebagian besar pemeluknya di Indonesia.

Sesungguhnya Islam dapat dijadikan tuntunan bagi pembangunan peradaban Indonesia di masa depan. Islam, sebagai suatu ajaran agama yang bersumber dari Allah SWT, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para pemeluknya atau kepada siapapun untuk melihat Islam dari sudut pandang berbagai ilmu pengetahuan seperti antropologi, sosiologi, psikologi, hokum, politik, dan ekonomi. Sebaliknya Islam sebagai sebuah wahyu, juga sangat berkemungkinan mempersoalkan ilmu pengetahuan tersebut berdasarkan sumber-sumber Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW melalui satu pendekatan yang dikenal dengan istilah “Recontruvted Logic” (pendekatan berdasarkan wahyu Allah SWT). Hubungan akademik yang timbal balik antara agama Islam dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat menarik untuk diteliti dan dipelajari secara simultan oleh civitas akademika Universitas Indonesia khususnya, dan oleh masyarakat Indonesia umumnya, sehingga tidak ada lagi kesan dualisme antar agama di satu pihak dengan ilmu pengetahuan di pihak lain. Kedua-duanya memiliki kontribusi yang sama besarnya bagi kejayaan umat manusia.

  1. Potensi PKTTI di UI

Pengembangan Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) di UI sangat dimungkinkan oleh banyak factor. Keberadaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya dengan Program Studi Arab-nya merupakan asset besar di UI. Program Studi ini pada mulanya bernama Asia Barat (Timur Tengah) yang meliputi seluruh kawasan Persia maupun penutur bahasa Arab lainnya.

Kehadiran forum-forum kajian Islam di UI baik pada tingkat mahasiswa maupun dosen merupakan sumber yang melimpah untuk mengembangkan PKTTI. Di FIB UI misalnya ada FORMASI (Forum Mahasiswa Islam), di FISIP UI ada PEDATI (Percakapan Cendekiawan Tentang Islam), di FE UI ISTI (Integrasi Studi Tentang Islam), dan lain-lain. Para dosen yang tergabung dalam mata kuliah umum (MKU) agama Islam mengkoordinir diri dalam sebuah forum kajian Islam dengan nama FSI (Forum Studi Islam). Masjid UI juga merupakan salah satu basis pengembangan kajian Islam di kampus UI.

Alhasil, pendirian Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) UI merupakan bagian tak terpisahkan dari forum-forum yang sudah ada tersebut. PKTTI merupakan wadah bagi semua civitas akademika UI untuk mengembangkan kajian Timur Tengah dan Islam.

Dibandingkan dengan di Amerika Serikat, Eropa, Australis, dan Kanada, kajian masalah Timur Tengah dan Islam di Indonesia sesungguhnya sangat tertinggal jauh. Amerika Serikat misalnya, hampir tidak ada universitas ataupun perguruan tinggi terkemuka yang tidak memiliki Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam. Sedangkan di Indonesia baru beberapa universitas yang memilikinya.

  1. Kelembagaan

Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) UI secara resmi berdiri pada Mei 1997. Secara structural, lembaga ini di bawah otoritas Rektor Universitas Indonesia yang dibantu oleh dua orang pelaksana yaitu Kepala Pusat Kajian dan Sekretaris dengan berbagai perangkat organisasi lain di bawahnya. PKTTI juga memiliki lembaga-lembaga lain sebagai unit kegiatannya.

  1. Rencana Pembangunan Gedung

Untuk mengakomodasi seluruh kegiatannya baik yang bersifat pendidikan pengajaran, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat, Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam merencanakan membangun gedung sebagai pusat kegiatan terpadunya. Untuk itu pimpinan Universitas Indonesia telah menyediakan tanah seluas 6000 meter persegi di dalam lingkungan Universitas Indonesia.

  1. PKTTI dan Pengembangan Program Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia

Salah satu wujud dari aktivitas Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) UI adalah pembukaan Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI ini. Memang sejak awal, idenya adalah mendirikan PSKTTI UI. Sambil menunggu dibukanya PSKTTI-UI, para penggagasnya mengembangkan PKTTI-UI dengan berbagai kegiatan diskusi dan seminar, penerbitan jurnal, serta membuka Executive Workshop Programme on Certified Islamic Financial Analyst (CIFA).

PSKTTI UI sendiri mulai menerima mahasiswa baru pada tahun akademik 2000/2001, dengan kategori sebagai salah satu Program Studi paling banyak peminatnya di lingkungan Program Pascasarjana UI.

Ide awal PSKTTI UI muncul sekitar akhir tahun 1994 dengan membatasi pada kajian Timur Tengah. Setelah melalui beberapa kali rapat, juli 1995, Direktur Program Pascasarjana UI menyarankan kepada Rektor UI untuk meminta izin Dirjen Pendidikan Tinggi yang menjadi kewenangannya membuka sebuah program studi di perguruan tinggi. Maka pada tanggal 7 September 1995, Pembantu Rektor I UI mengajukan permohonan izin kepada Dirjen, dan diulangi lagi melalui surat Pembantu Rektor I tertanggal 21 Juni 1996.

Sambil menunggu izin Dirjen Pendidikan Tinggi belum kunjung turun, maka ada gagasan untuk menggabungkan rencana pemnbukaan PSKTTI UI dengan pendirian Pusat kajian Timur Tengah dan Islam yang diprakarsai Prof. Dr. MK Tadjudin. Alhasil, program Kajian Timur Tengah itu berubah menjadi Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) dengan dasar satu Surat Keputusan Rektor UI. Lembaga resmi berdiri pada bulan Mei 1997 dengan ketua Achmad Ramzy Tadjoedin.

Empat tahun kemudian, sekitar Desember 2000 datang surat dari Direktur Pembina Sarana Akademik Depdiknas yang menyarankan agar panitia pendirian PSKTTI UI memperbaiki proposalnya. Berbarengan dengan itu, keluar Peraturan Pemerintah No. 152 yang menetapkan Universitas Indonesia sebagai BHMN.

Dalam peraturan terserbut dinyatakan bahwa Rektor memiliki kewenangan untuk membuka atau menutup suatu program studi. Berdasarkan peraturan ini, Program Pascasarjana UI memberi izin operasional bagi Program Kajian Timur Tengah dan Islam untuk menerima mahasiswa baru.

Sambil menunggu PP No. 152 berlaku efektif, pengajuan izin kepada Dirjen DIKTI tetap diteruskan. Berkat dukungan semua pihak di antaranya Prof. Wahyuning Ramelan Direktur Pascasarjana UI, Prof. Dr. Alwi Shihab sebagai Menteri Luar Negeri, Prof. Dr. Mahfud MD saat itu Menteri Pertahanan, dan khususnya Prof. Dr. Yahya Muhaimin selaku Mendiknas akhirnya perizinan PSKTTI UI diperoleh.

Sebagai lembaga pendidikan, PSKTTI UI berada di bawah Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Program Studi ini merupakan kajian keilmuan yang bersifat multidisiplin dan berorientasi pada kajian wilayah (area studies) dan kajian Islam dalam berbagai bidang. Program Studi kajian Timur Tengah dan Islam ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan belajar kepada para peminat yang memenuhi syarat pada jenjang pendidikan magister (S2). Ruang lingkup kajian pada Program Studi Timur Tengah dan Islam ini mencakup berbagai aspek tentang kawasan Timur Tengah dan keislaman, yang untuk tahap awal meliputi: Kajian Politik dan Hubungan Internasional di Timur Tengah, Kajian Masyarakat dan Kebudayaan di Timur Tengah, Kajian Islam, Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah, dan Psikologi Islam.

  1. Workshop Program on Certified Islamic Financial Analyst (CIFA)

Aktivitas lainnya yang pernah dilakukan Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) UI adalah pelaksanaan Executive Workshop Program on Certified Islamic Financial Analyst (CIFA). Kegiatan ini dilatar belakangi oleh karena makin besarnya kebutuhan masyarakat akan keuangan syariah, khususnya masyarakat perbankan baik bank pemerintah maupun bank swasta. Bahkan di daerah tertentu seperti di Nangroe Aceh Darussalam semua perbankan yang masuk ke sana harus menggunakan system syariah.

Pesatnya perkembangan ekonomi dan keuangan Islam ketika itu ternyata belum diimbangi dengan tenaga professional di bidangnya. Oleh karena itu, kami dan CIFA hadir untuk memberikan jawaban yang terbaik bagi pengembangan profesionalisme di bidang ekonomi dan keuangan Islam

  1. Program Siaran Berita Bahasa Arab “Akhbarul Yaum” di TV

Program siaran berita berbahasa Arab “Akhbarul Yaum” ini merupakan hasil kerjasama antara PKTTI UI dan TPI serta didukung oleh KADIN Komisi Timur Tengah. Melalui rangkaian pertemuan antara Tim Pemrakarsa dari PKTTI UI dan Staf Direksi TPI, dicapai kesepakatan mendasar (Gentle Agreement) mengenai penayangan siaran berita berbahasa Arab ini. Tim Pemrakarsa membuat naskah berita berbahasa Arab dan menyediakan tenaga presenter sementara Crew TPI memberikan pengarahan dan melakukan perekaman serta penayangan.

Untuk kepentingan public, siaran berita berbahasa Arab ini merupakan jawaban terhadap kebutuhan akan informasi berbahasa Arab dari komunitas-komunitas masyarakat berbahasa Arab dan muslim di Indonesia, mulai dari keluarga-keluarga Kedutaan Besar Negara-negara Timur Tengah, warga keturunan Arab di Indonesia, hingga penduduk Indonesia yang memiliki ikatan dengan dunia Arab, baik dari segi bisnis, kebudayaan, maupun agama.

Untuk dimaklumi, terminology Timur Tengah dewasa ini mencakup Negara-negara Liga Arab ditambah dengan Israel, Iran, Turki, Afganistan, Pakistan, Uzbekistan, dan Tazekistan. Adapun warga keturunan Arab sejak lama telah berkembang bukan hanya di kepulauan Nusantara melainkan pula di kawasan Asia Tenggara dengan memberi pengaruh kepada berbagai aspek kehidupan.

Format siaran “Akhbarul Yaum” mengambil bentuk: Warta Berita Plus. Isi dari program ini terdiri dari penyajian berita terpilih tentang berbagai peristiwa di Indonesia maupun di manca Negara di tambah dengan features tentang aneka peristiwa social, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dialog. Pelaksanaan siaran bahasa Arab ini dikelola bersama oleh Tim Pemrakarsa dari PKTTI UI yang terdiri dari tenaga ahli komunikasi, pakar bahasa Arab, dan Stasiun TPI.

  1. Syariah Entreprenuer Development Project (SCDP)

Setelah Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, begitu banyak usaha kecil yang gulung tikar akibat tak mampu menahan beban utang pada bank. Kondisi ini berakibat pula pada tingkat pengangguran yang semakin bertambah.

Banyak pengamat ekonomi berpendapat bahwa sebenarnya dalam dunia usaha kecil dan menengah inilah terletak kekuatan dan ketahanan ekonomi Indonesia. Walau bagaimanapun kehadiran bank sebagai mitra usaha tetap diperlukan, namun yang berlandaskan pada konsep partnership. Dalam artian kedua belah pihak; bank dan nasabah sama-sama menanggung resiko keuntungan atas proyek/usaha yang dijalankan dengan cara pembagian yang disetujui bersama, seperti dilaksanakan oleh perbankan syariah.

Berdasarkan pengalaman masa lalu, usaha kecil dan mrenengah membutuhkan dukungan pembinaan yang berkesinambungan. Sebagai perwujudan “MoU” antara PKTTI UI, Muamalat Institute-Bank Muamalat Indonesia, dan mesjid UI mengadakan kegiatan pengembangan kewirausahaan syariah.

Pembukaan program ini sendiri dimaksudkan untuk memberikan sejumlah keuntungan kepada mereka yang menjadi peserta pelatihan:

  1. Mempunyai keahlian sebagai entrepreneur syariah yang dinamis
  2. Berhak mendapat sertifikat of attendant atau sertifikat of achievement, sebagai bekal melamar pekerjaan.
  3. Berhak atas penerimaan bagi hasil melalui BMT yang disediakan untuk keperluan pelatihan tersebut.
  4. Membantu Rektor UI dalam Menyusun Konsep Penganugerahan Doctor Honoris Causa

Bangsa dan rakyat Saudi Arabia bukanlah orang lain bagi bangsa Indonesia. Kemiripan sosial budaya, kesamaan visi untuk menciptakan bumi ini tenang, damai sentosa, bukan hanya titah Allah SWTmelainkan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan harapan semua manusia tanpa melihat latar belakang ideologi, ras, budaya, dan agama.

Kerja keras dan upaya mulia yang dilakukan Raja Abdullah agar bumi ini aman dan sejahtera; tak ada lagi pembunuhan, tidak ada lagi peperangan, tidak ada lagi anak kecil dan istri yang menangis karena ayah dan suaminya terbunuh, tidak ada lagi bayi meninggal karena kekurangan gizi dan busung lapar, tidak ada lagi peperangan atas nama agama apalagi golongan amatlah sesuai dengan cita-cita pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.

Tidaklah berlebihan, jika Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI menyebut Raja Abdullah sebagai “King of Peace”. Penghormatan ini sangatlah berdasar, mengingat jasa-jasa dan kerja keras beliau yang nyata dapat dirasakan dan disaksikan bukan hanya oleh Bangsa Indonesia melainkan oleh pemimpin-pemimpin dunia, lembaga-lembaga riset dan penelitian, LSM-LSM, para pemimpin agama, dan masyarakat internasional.

Comments

comments